
Mekkah
RUKUN HAJI
|
Ihram
|
Pernyataan mulai mengerjakan ibadah haji atau umroh dengan memakai pakaian ihram disertai niat haji atau umroh di miqat
|
|
Wukuf di Arafah
|
Berdiam diri dan berdoa di Arafah pada tanggal 9 Zulhijah
|
|
Tawaf Ifadah
|
Mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali, dilakukan setelah melontar jumroh Aqabah pada tgl 10 Zulhijah
|
|
Sa’i
|
Berjalan atau berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali, dilakukan setelah Tawaf Ifadah
|
|
Tahallul
|
Bercukur atau menggunting rambut setelah melaksanakan Sa’i
|
|
Tertib
|
Mengerjakan kegiatan sesuai dengan urutan dan tidak ada yang tertinggal
|
Wajib Haji
Wajib Haji adalah kegiatan yang harus dilakukan padaIbadah Haji, jika tidak dikerjakan harus membayar dam (denda)
|
Wajib Haji
|
Keterangan
|
|
Niat Ihram
|
Dilakukan setelah berpakaian Ihram
|
|
Mabit (bermalam) di Muzdalifah pada tgl 9 Zulhijah
|
Dalam perjalanan dari Arafah ke Mina
|
|
Melempar jumroh Aqabah
|
Pada tanggal 10 Zulhijah
|
|
Mabit di Mina
|
Pada hari Tasyrik (11-13 Zulhijah)
|
|
Melempar jumrah Ula, Wustha dan Aqabah
|
Pada hari Tasyrik (11-13 Zulhijah)
|
|
Tawaf Wada
|
Melakukan tawaf perpisahan sebelum meninggalkan kota Makkah
|
|
Meninggalkan perbuatan yang dilarang saat Ihram
|
—
|
PENGERTIAN HAJI
Sengaja datang ke Mekah, mengunjungi Ka’bah dan tempat-tempat lainnya untuk melakukan serangkaian ibadah dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan.
JENIS JENIS HAJI
HAJI TAMATTU
|
Yaitu memakai ihram dari mikat dengan niat umrah pada musim haji, setelah tahallul, memakai ihram lagi dengan niat haji pada hari Tarawiah (8 Zulhijah). Bagi yang melaksanakan haji tamattu diwajibkan membayar dam.
|
HAJI QIRAN
|
Yaitu memakai ihram dari mikat dengan niat umrah pada musim haji, setelah tahallul, memakai ihram lagi dengan niat haji pada hari Tarawiah (8 Zulhijah). Bagi yang melaksanakan haji tamattu diwajibkan membayar dam.
|
HAJI IFRAD
Yaitu memakai ihram dari mikat dengan niat haji saja, kemudian tetap dalam keadaan ihram sampai selesai haji (hari raya kurban). Yang melaksanakan haji ifrad tidak diharuskan membayar dam.
UMRAH
Umrah disebut Hajjul Ashghar (Haji Kecil), Kata ini berasal dari kata i`timaar (kata berimbuhan). Cara melaksanakannya; Orang yang hendak umrah melakukan ihram dari mikat, kemudian melaksanakan tawaf qudum, lalu sai dan tahallul dengan mencukur atau menggunting rambut.
a. Berihram dari Mikat h.Bertolak ke Muzdalifah
b. Tawaf Qudum i. Melontar Jumrah Aqabah
c. Sai j. Menyembelih Qurban
d. Memotong Rambut k. Bercukur bagi laki laki
e. Ihram Haji Tamattu l. Tawaf
f. Bermalam di Mina m. Bermalam di Mina
g. Arafah n. Melontar Jumroh
o. Tawaf Wada
1. Berihram dari Mikat 7. Melontar Jumrah Aqabah
2. Tawaf Qudum 8. Menyembelih Kurban
3. Sai 9. Bercukur Bagi Lelaki
4. Bermalam di Mina 10. Tawaf Ifadah
5. Wukuf di Arafah 11. Bermalam Di Mina
6. Bertolak Ke Muzdalifah 12. Melontar Jumrah
13. Tawaf Wada
1. Berihram dari Mikat 7. Melontar Jumrah Aqabah
2. Tawaf Qudum 8. Bercukur Bagi Lelaki
3. Sai 9. Tawaf Ifadah
4. Bermalam di Mina 10. Bermalam di Mina
5. Wukuf di Arafah 11. Melontar Jumrah
6. Bertolak ke Muzdalifah 12. Tawaf Wada
Syarat-syarat haji menurut Mazhab Hanafi
|
1.
|
Islam, haji tidak wajib bagi orang kafir, hajinya tidak sah.
|
|
2.
|
Akal, tidak wajib bagi orang gila dan hajinya tidak sah.
|
|
3.
|
Balig, tidak wajib bagi bayi tetapi bila sudah mumayyiz (bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk) hajinya diterima. Namun demikian setelah dewasa yang bersangkutan belum bebas dari fardu haji.
|
|
4.
|
Merdeka, tidak wajib haji bagi budak.
|
|
5.
|
Sehat jasmani.
|
|
6.
|
Memiliki bekal dan sarana perjalanan.
|
|
7.
|
Perjalanan aman.
|
Tambahan bagi wanita:
1. Harus didampingi suami atau mahramnya.
2. Tidak dalam keadaan iddah, baik karena cerai maupun kematian suami.
Syarat haji menurut Mazhab Maliki
|
1.
|
Islam, haji tidak wajib bagi orang kafir dan hajinya tidak sah.
|
|
2.
|
Akal, tidak wajib bagi orang gila dan hajinya tidak sah.
|
|
3.
|
Balig, tidak wajib bagi bayi tetapi bila sudah mumayyiz (bisa membedakan antara yang baik dengan yang buruk) hajinya diterima. Namun demikian setelah dewasa yang bersangkutan belum bebas dari fardu haji.
|
|
4.
|
Merdeka, tidak wajib haji bagi budak.
|
|
5.
|
Kemampuan
|
Tambahan bagi wanita:
Tidak disyaratkan adanya suami atau mahram tapi boleh melaksanakan haji bila ada teman
yang dianggap aman, baik bagi wanita muda atau tua.
Syarat-syarat haji menurut Mazhab Syafi’i
|
1.
|
Islam, haji tidak wajib bagi orang kafir, hajinya tidak sah.
|
|
2.
|
Merdeka, tidak wajib haji bagi budak.
|
|
3.
|
Taklif (sudah mukallaf, yaitu berkewajiban melaksanakan syariat)
|
|
4.
|
Kemampuan, dengan syarat sebagai berikut:
|
|
a.
|
Ada perbekalan, makanan dan lain-lain untuk pergi dan pulang.
|
|
b.
|
Ada kendaraan
|
|
c.
|
Perbekalan yang dibawa harus kelebihan dari pembayaran hutang dan biaya keluarga yang ditinggalkan di rumah.
|
|
d.
|
Dengan kendaraan yang sudah jelas bahwa tidak akan mengalami kesulitan.
|
|
e.
|
Perjalanan aman.
|
Tambahan untuk wanita:
Ada pendamping yang aman dengan seorang wanita muslimah yang merdeka dan terpercaya.
Syarat-syarat haji menurut Mazhab Hambali
|
1.
|
Islam, haji tidak wajib bagi orang kafir dan hajinya tidak sah.
|
|
2.
|
Akal, tidak wajib bagi orang gila, hajinya tidak sah.
|
|
3.
|
Balig, tidak wajib bagi bayi tetapi bila sudah mumayyiz (bisa membedakan yang baik dengan yang buruk) hajinya diterima. Namun demikian setelah dewasa yang bersangkutan belum bebas dari fardu haji.
|
|
4.
|
Merdeka, tidak wajib haji bagi budak.
|
|
5.
|
Kemampuan
|
Tambahan bagi wanita:
Harus diikuti oleh mahramnya atau orang yang haram menikahinya selamanya.
TEMPAT TEMPAT ISTIMEWA DAN MUSTAJAB
- Multazam (antara Hajar Aswad dan Pintu Ka’bah)
| Multazam merupakan dinding Ka’bah yang terletak di antara Hajar Aswad dengan pintu Ka’bah. Tempat ini merupakan tempat utama dalam berdoa, yang dipergunakan oleh jamah Haji dan Umroh untuk berdoa/ bermunajat kepada Allah SWT setelah selesai melakukan Tawaf.
Saat bermunajat di depan Multazam ini, Jarang orang tidak meneteskan air mata di sini, terharu karena kebesaran Illahi.Multazam ini insya Allah merupakan tempat yang mustajab dalam berdoa, insya Allah doa dikabulkan oleh Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda, “Antara Rukun Hajar Aswad dan Pintu Ka’bah, yang disebut Multazam. Tidak seorangpun hamba Allah yang berdoa di tempat ini tanpa terkabul permintaannya”
|
- Maqam Ibrahim (dekat Ka’bah)

Maqom Ibrahim bukanlah kuburan Nabi Ibrahim sebagaimana dugaan atau pendapat sebagian orang. Maqom Ibrahim adalah batu pijakan pada saat Nabi Ibrahim membangun Ka’bah. Letak Maqom Ibrahim ini tidak jauh, hanya sekitar 3 meter dari Ka’bah dan terletak di sebelah timur Ka’bah.
Saat ini Maqom Ibrahim seperti terlihat pada foto di atas. Di dalam bangunan kecil ini terdapat batu tempat pijakan Nabi Ibrahim seperti dijelaskan di atas. Pada saat pembangunan Ka’bah batu ini berfungsi sebagai pijakan yang dapat naik dan turun sesuai keperluan nabi Ibrahim saat membangun Ka’bah. Bekas kedua tapak kaki Nabi Ibrahim masih nampak dan jelas dilihat.
Atas perintah Khalifah Al Mahdi Al Abbasi, di sekeliling batu Maqom Ibrahim itu telah diikat dengan perak dan dibuat kandang besi berbentuk sangkar burung.
- Hijir Ismail (dekat ka’bah)
| Hijir Ismail, berdampingan dengan Ka’bah dan terletak di sebelah utara Ka’bah, yang dibatasi oleh tembok berbentuk setengah lingkaran setinggi 1,5 meter. Hijir Ismail itu pada mulanya hanya berupa pagar batu yang sederhana saja. Kemudian para Khalifah, Sultan dan Raja-raja yang berkuasa mengganti pagar batu itu dengan batu marmer.
Hijir Ismail ini dahulu merupakan tempat tinggal Nabi Ismail, disitulah Nabi Ismail tinggal semasa hidupnya dan kemudian menjadi kuburan beliau dan juga ibunya.
Berdasarkan kepada sabda Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam, sebagian dari Hijir Ismail itu adalah termasuk dalam Ka’bah. Ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari ‘Aisyah r.a. yang berbunyi : ‘Dari ‘Aisyah r.a. katanya; “Aku sangat ingin memasuki Ka’bah untuk melakukan sholat di dalamnya. Rasulullah s.a.w. membawa Siti ‘Aisyah ke dalam Hijir Ismail sambil berkata ” Sholatlah kamu di sini jika kamu ingin sholat di dalam Ka’bah, karena ini termasuk sebagian dari Ka’bah.
Sholat di Hijir Ismail adalah sunnah, dalam arti tidak wajib dan tidak ada kaitan dengan rangkaian kegiatan ibadah Haji atau ibadah Umroh. |
- Dalam ka’bah
Di dalamnya terdapat 3 tian utama yang berfungsi menyangga atap ka’bah. Di situ ada mihrab dimana Rasulullah pernah shalat.
Ka’bah merupakan kiblat sholat umat Islam.Ka’bah yang berbentuk kubus ini merupakan bangunan utama di atas bumi yang digunakan utk menyembah Allah SWT.Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an, Surat Ali Imran ayat 90, yang artinya :
“Sesungguhnya permulaan rumah yang dibuat manusia untuk tempat beribadah adalah rumah yang di Bakkah (Mekah), yang dilimpahi berkah dan petunjuk bagi alam semesta”
Ka’bah disebut juga Baitullah (Rumah Allah) atau Baitul ‘Atiq (Rumah Kemerdekaan). Dibangun berupa tembok segi empat yang terbuat dari batu-batu besar yang berasal dari gunung-gunung di sekitar Mekah. Baitullah ini dibangun di atas dasar fondasi yang kokoh.
Dinding-dinding sisi Ka’bah ini diberi nama khusus yang ditentukan berdasarkan nama negeri ke arah mana dinding itu menghadap. terkecuali satu dinding yang diberi nama “Rukun Hajar Aswad”.
Adapun keempat dinding atau sudut (rukun) tersebut adalah :
- Sebelah Utara Rukun Iraqi (Irak)
- Sebelah Barat Rukum Syam (Suriah)
- Sebelah Selatan Rukun Yamani (Yaman)
- Sebelah Timur Rukun Aswad (Hajar Aswad).
Keempat sisi Ka’bah ditutup dengan selubung yang dinamakan Kiswah. Sejak zaman nabi Ismail, Ka’bah sudah diberi penutup berupa Kiswah ini.
Saat ini Kiswah tersebut terbuat dari sutra asli dan dilengkapi dengan kaligrafi dari benang emas.
Dalam satu tahun Ka’bah ini dicuci dua kali, yaitu pada awal bulan Dzul Hijjah dan awal bulan Sya’ban. Kiswah diganti sekali dalam setahun.
- Rukun Yamani dan Hajar Aswad (Masjidil Haram)
Rukun adalah sendi atau tiang,yakni 4 sudut Ka’bah yang di beri nama Rukun Aswad, Rukun Iraqi ,Rukun Syami dan Rukun Yamani. Hajar Aswad adalah posisi permulaan bagi jamaah haji untuk melakukan thawaf, berdoa di Hajar Aswad juga sangat mutajab dan di sunnahkan juga untuk mencium batu hitam tersebut.
(Dikatakan Tanah Haram karena Tanah ini diharamkan bagi umat lain, selain umat Muslim).Saat ini luas Masjid Al Haram 328.000 meter persegi dan dapat menampung 730.000 jamaah dalam satu waktu sholat berjamaah.
Masjid ini melingkari Ka’bah, maka pintunya banyak. Ada 4 pintu utama dan 45 pintu biasa yang biasanya buka 24 jam sehari.
Keistimewaan Masjidil Haram banyak sekali, antara lain : Shalat di masjid ini lebih utama daripada shalat seratus ribu kali di masjid lain. Begitupun berdzikir, berdoa, bersedekah dan beramal baik lainnya.
- Mizhab atau Talang Emas ( di depan Hijir Ismail)
Mizhab adalah Talang air terletak pada sisi bagian utara menghadap Hijir Ismail untuk membuang air hujan. Talang tersebut di ganti dengan emas seluruhnya dengan berat sekitar 40 kg.
- Sumur Zam – zam

Mata Air Zam-zam
Air Zamzam berasal dari mata air Zamzam yang terletak di bawah tanah, sekitar 20 meter di sebelah Tenggara Ka’bah. Mata air atau Sumur ini mengeluarkan Air Zamzam tanpa henti. Diamanatkan agar sewaktu minum air Zamzam harus dengan tertib dan membaca niat. Setelah minum air Zamzam kita menghadap Ka’bah.
Air Zamzam yang merupakan berkah dari Allah SWT, mempunyai keistimewaan dan keberkatan dengan izin Allah SWT, yang bisa menyembuhkan penyakit, menghilangkan dahaga serta mengenyangkan perut yang lapar. Keistimewaan dan keberkatan itu disebutkan pada hadits Nabi , ” Dari Ibnu Abbas r.a., Rasulullah s.a.w bersabda: “sebaik-baik air di muka bumi ialah air Zamzam. Air Zamzam merupakan makanan yang mengenyangkan dan penawar bagi penyakit “.
- Bukit Shafa dan Marwah
Shafa dan Marwah merupakan dua bukit yang terletak dekat dengan Ka’bah. Kedua bukit ini sudah termasuk dalam bangunan Masjidil Haram. Namun hukum kesuciannya tetap berlaku “terpisah”, bahwa lokasi tersebut adalah lokasi di luar mesjid. Sehingga muslimah yang sedang haid boleh melakukan sa’i
- Raudhah (Masjid Nabawi,Madinah)
Raudhah merupakan ”bekas” rumah Rasulullah yang kini termasuk dalam Masjid Nabawi. Posisinya antara makam Rasulullah dan mimbar Rasulullah, dengan luas kurang lebih 144 meter persegi.
Disebut Masjid Nabawi karena Nabi Muhammad SAW. selalu menyebutnya dengan kalimat, ” Masjidku”, pada setiap kali beliau menerangkan tentang sebuah masjid yang sekarang berada di pusat kota Madinah. Rasul bersabda,” Sholat di masjidku ini lebih utama daripada sholat seribu kali di masjid lain, kecuali Masjidil Haram”.
Dalam satu riwayat lain, Rasul bersabda,” Barang siapa sholat di masjidku 40 waktu tanpa terputus, maka ia pasti selamat dari neraka dan segala siksa dan selamat dari sifat munafik”.
- Padang Arafah ( saat wuquf )
Wukuf secara harafiah berarti berdiam diri. Wukuf di Arafah adalah berada di Arafah pada waktu antara tergelincirnya matahari (tengah hari) tanggal 9 Dzulhijah sampai matahari terbenam dengan berpakaian ihram.Pada saat wukuf disarankan untuk memperbanyak doa sambil menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan. Juga memperbanyak taubat memohon ampunan Allah SWT.Sebab saat wukuf adalah saat yang utama untuk berdoa, memohon ampun dan bertaubat.
Selain itu juga perbanyak ibadah lainnya seperti membaca Al Qur’an, takbir, tahmid, tahlil dsb. Selama wukuf jangan sampai melakukan sesuatu yang tidak pantas atau tidak sesuai dengan kesucian ibadah saat Wukuf.
Adapun keutamaan Arafah adalah sebagaimana sabda Rasulullah SAW ,”Do’a yang paling baik adalah doa di hari Arafah”.
Dalam riwayat lain Rasulullah SAW juga bersabda ,”Tidak ada hari paling banyak Allah menentukan pembebasan hamba-Nya dari neraka kecuali hari Arafah”.
Arafah berjarak sekitar 25 km di sebelah Tenggara Makkah dan merupakan padang pasir yang amat luas dan di bagian belakang dikelilingi bukit-bukit batu yang membentuk setengah lingkaran.Saat ini sudah ditanami dengan pohon-pohon.
Pada musim haji di bawah pohon-pohon inilah dipasang tenda. bagi yang tidak kebagian tenda cukup berteduh di bawah pohon. Untuk mengurangi panas di setiap sekitar 20 meter dipasang pipa setinggi 6 meter yang diatasnya memancar air halus yang mirip gerimis, dengan tujuan menurunan suhu di sekitarnya.
Pancaran air ini sangat bermanfaat dan dapat mengurangi banyaknya jamaah yang terkena high stroke (tiba-tiba lemas karena matahari yang panas)
- Mina ( saat hari Tasriq )

Mina merupakan lokasi di Tanah Haram Makkah (Tanah yang diharamkan bagi orang selain Muslim). Mina didatangi oleh jamaah haji pada tanggal 8 Dzulhijah atau sehari sebelum wukuf di Arafah. Jamaah haji tinggal disini sehari semalam sehingga dapat melakukan sholat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh. Kemudian setelah sholat Subuh tanggal 9 Dzulhijah, jamaah haji berangkat ke Arafah. Amalan seperti ini dilakukan Rasulullah SAW saat berhaji dan hukumnya sunnah. Artinya tanggal 9 Dzulhijah sebelum ke Arafah, tidak wajib bermalam di Mina.
Jamaah haji datang lagi ke Mina setelah selesai melaksanakan Wukuf di Arafah. Jamaah haji ke Mina lagi karena para jamaah haji akan melempar jumroh. Di Mina ini, pada malam hari tidur dan pada siang hari melempar jumroh. Yaitu tanggal 10,11,12 Dzulhijah bagi jamaah haji yang melaksanakan Nafar Awal atau tanggal 10,11,12,13 dzulhijah bagi jamaah yang melaksanakan Nafar Tsani.Untuk tanggal di atas, amalan bermalam dan melempar jumroh merupakan amalan wajib haji (yang jika tidak dilakukan, harus membayar dam atau denda).
- Muzdalifah (saat Mabit )
Setelah matahari terbenam (mulai masuk tanggal 10 Dzulhijah), dari Arafah berangkat ke Muzdalifah. Sholat Maghrib dan Isya dikerjakan di Muzdalifah dengan cara jama’ takhir qashar.
Muzdalifah terletak antara Arafah dan Mina. Di Muzdalifah ini jamaah haji bermalam (mabit) dan mengambil 70 atau 49 butir batu kecil untuk persiapan lempar jumroh di Mina. Sholat Subuh dilaksanakan berjamaah di Muzdalifah.
Setelah sholat subuh, meninggalkan Muzdalifah menuju Mina untuk melakukan melempar jumroh. Bagi orang tua dan yang lemah/ sakit boleh meninggalkan Muzdalifah pada malam hari setelah lewat tengah malam baru menuju Mina.
- Di Jumratul Aqabah, Jumratul Wustha dan Jumratul Ula