Aliyah adalah seorang gadis ceria yang memiliki semua kecantikan yang di idam – idamkan setiap pria. Rambut ikal berwarna keemasan, bola matanya yang indah dan bibir yang menawan yang semakin menambah kesempurnaan parasnya. Namun , demi memenuhi permintaan ibunya , Aliyah rela meninggalkan masa mudanya dan menikah pada usia 16 tahun dengan Aziz Bik seorang businessman sukses berusia 50 Tahun.
Aliyah yang sangat sulit utk beradaptasi dgn suami dan lingkungan barunya yg dikelilingi dgn org2 yg berusia di atas 40-50 th sehingga menuntut dirinya utk bersikap seperti wanita yg telah berusia 40 tahun. Di saat suaminya sakit sakitan dengan sikapnya yg mulai berubah menjadi pemarah dan pencemburu dgn munculnya seorang dokter yg merawat suaminya bernama Dokter Khalid.
Suatu hari, saat Aliyah dan Dokter Khalid sedang membicarakan kondisi Aziz, terbukalah pintu kamar dan muncullah muka suaminya. Dengan pandangan marah di sertai kecemburuan yang memuncak, sang suami membentak Aliyah dengan keras . Tak lama kemudian Ia terjatuh. Akankah Aliyah mendptkan kembali kepercayaan suaminya ataukah Ia lebih memilih mencari kehidupan masa mudanya yg hilang..?
……………

Tak lama kemudian Khaled melepaskan stetoskop dari telinganya dan membiarkan menggantung di atas dada. Dia mulai memeriksa setiap bagian tubuh Alia sambil bertanya,
“ Disini terasa Sakit?”
“ Tidak “ Jawab Alia ….
Khaled mendekatkan wajahnya lalu memeriksa warna mata Alia.
“Engkau bisa tidur tenang?” tanya Khaled
“Tidak …. “
“Terus apalagi ?”
“ Warna Kulitku tidak bagus dan tubuhku terasa lelah.”
Khaled menatap Alia dengan sorot mata teduh dan senyum manis. Dengan tenang dia bertanya,
“ Engkau dokter jiwa ?! “
“aku bisa saja memberikan obat penenang lalu menyuruhmu ganti suasana. Jangan begadang dan membuat lelah pikiran agar bisa tidur tenang. Yang penting engkau harus bahagia agar bisa tidur tenang “
Alia diam sebentar.
“Kapan orang yang sendiri merasa bahagia ?” tanya Alia pelan. Dokter menjawab penuh wibawa. “Orang yang hidup sendiri bisa bahagia saat merasa tenang dengan dirinya, dan tenang dengan apa yang dia perbuat.” Alia mengangkat kepala dan menganggap Khaled telah menghina. Tapi khaled memandangnya dengan kasih sayang di sertai senyum yang menyejukkan. Alia kembali tenang, dia kembali menunduk seolah mengaku.
“ Kalau aku sendirian, apa yang seharusnya aku lakukan untuk membuat hati tenang?”
“ Tidak usah berbuat apa-apa.cukup berdiam diri saja sampai benar-benar tahu kapan engkau akan berbuat sesuatu!”
“ Banyak manusia yang memilih diam diri hingga umurnya hilang. Dengan kondisi diam itu dia malah tidak bahagia.”
“ Aku tahu engkau sudah banyak berdiam diri. Tapi coba untuk berdiam diri lagi sebentar!”
“ Aku tidak paham maksudmu !”
“ Bukankah engkau memilih diam semasa hidup almarhum?”
“ Iya, aku tidak berbuat apa-apa!”
“ Lalu mengapa engkau tidak bisa berdiam diri setelah kematian almarhum ? mengapa justru engkau banyak melakukan sesuatu?” Alia bergetar saking marahnya.“Dokter, tolong jangan bicarakan masalah ini.” Kata Alia dengan suara meninggi.” Aku dokter yang menyembuhkanmu nyonya Alia. Maaf kalau cara pengobatanku terkesan cepat dan keras!”
“Aku tidak sedang menemui psikiater !” Alia berdiri diikuti Khaled, kemudian Khaled memegang tangan Alia dengan kuat dan berkata,
“ Aku mengangap diriku bertanggung jawab atas dirimu sejak mengobati almarhum suamimu. Aku selalu menunggu hari kapan engkau akan datang kepadaku, mengadu bahwa engkau sakit. Sejak awal aku selalu melihatmu keluar rumah sejak kematian almarhum. Aku tahu engkau akan merasa letih dan membutuhkanku. Aku tak mungkin membiarkanmu pergi sebelum menyembuhkan dan memberi obat yang terbaik …. “ kata Khaled lalu terdiam …….
Alia tidak menjawab. Dia berharap bisa meletakan kepalanya yang berat itu di dada Khaled dan menangis. Khaled kembali berkata dengan tenang penuh sayang.
“Kumohon, percayalah kepadaku nyonya Alia. Aku bukan hanya dokter, aku juga teman. Kelak engkau akan mengetahui sejauh apa persahabatanku ini …..”