Meski kita disebut makhluk pelupa, tapi masih diberi kemampuan untuk mengabadikan ingatan terhadap sesuatu. Selain pernikahan atau cinta pertama, peristiwa yang tak mungkin terlupakan adalah ketika kita menerima pekerjaan baru. Kepuasan itu kita ekspresikan dengan antusian kerja yang tinggi, disiplin, motivasi yang bagus, kesediaan belajar dan menerima pelajaran dari orang lain, dan lain-lain. Kita benar-benar merasa memiliki alasan yang cukup kuat untuk mensyukuri apa yang kita dapatkan.
Kadang kadang aku terbesit di hatiku rasa jenuh , selama beberapa tahun sejak awal tahun 2003 hingga sekarang tahun 2008 kira kira sudah lima tahun. Kalau di uraikan :
- Pekerjaan itu sendiri
- Gaji, Tunjangan, Penghasilan
- Lingkungan kerja
- Pembagian / Penunjukan kerja
- Dan lain lain
Di sisi lainnya bahwa kantor tempat ku bekerja adalah tempat kedua setelah rumah, masih ada suasana kekerabatan, kerjasama, konflik tetap ada yaitu perbedaan karakter .
ada banyak pesan yang mengingatkan kita tentang hal ini. Pesan itu antara lain begini;
“Nasibmu tidak ditentukan oleh apa yang menimpamu tetapi ditentukan oleh apa yang kamu lakukan atas apa yang menimpamu.”
“It’s not what on you, but it’s what in you.”
“Tindakanmu adalah fungsi dari keputusanmu, bukan fungsi dari keadaanmu.”
Dan masih banyak lagi pesan serupa yang kerap kita dengar.
Mengelola emosi itu penting, karena akan mengajarkan kapan kita menggunakan ketidakpuasan sebagai pemacu untuk merumuskan program perbaikan baru dan kapan kita menggunakan ketidakpuasan itu sebagai spirit untuk menjalankan program yang sudah kita rumuskan. Kalau kita sedikit-sedikit bongkar pasang rencana, judul akhirnya malah tidak karu-karuan. Tetapi kalau kita tidak merumuskan rencana baru atau memiliki standar prestasi yang baru, ini biasanya malah membikin kita mandek yang berujung pada apa yang disebut dengan kelumpuhan karir itu.
Nasib karir kita belum sebagus yang kita inginkan, tetapi yang paling penting di sini adalah batin kita dinamis. Dengan batin yang dinamis ini langkah kita menjadi dinamis dan lebih enteng. Kalau langkah kita menjadi enteng, saya pikir ini berbeda dengan ketika langkah kita yang telah dipenuhi oleh beban ketidakpuasan. Kita bagaikan kendaraan yang kelebihan muatan. Biarkan gas sudah kita tancap sedemikian kuat, tapi kecepatannya masih belum optimal. Seperti pesan seorang atlit, masalahnya bukan di luar diri kita, tetapi di dalam diri kita.